Kisah Inspiratif Nenek Mariah yang Giat Lestarikan Anyaman Bamban Aceh

Di usianya yang tak lagi muda yakni 75 tahun, Nenek Mariah masih semangat melestarikan anyaman bamban khas Aceh. Di rumah panggung miliknya yang teduh, mata Nenek Mariah lincah memasukkan helai demi helai anyaman untuk dijadikan prakarya yang bernilai jual.

Di zaman yang semakin modern ini, sebagian masyarakat tak lagi menggunakan produk anyaman sebagai wadah untuk memasak atau menaruh perkakas. Sebab, kemunculan wadah-wadah plastik dengan berbagai bentuk serta warna yang menarik dianggap lebih awet dan modern.

Padahal anyaman bemban ini merupakan salah satu kebudayaan dan produk kerajinan tangan Aceh yang sudah ada sejak zaman dahulu. Kini, para pengrajin anyaman bemban bisa dihitung jari. Sebagian bahkan adalah para sesepuh yang sejak remaja sudah berjualan anyaman bemban. Meski hampir punah digerus zaman, namun Nenek Mariah tetap semangat menjadi pengrajin anyaman bemban meski tak banyak peminat.

Sudah Dilakoni Sejak Remaja

Selain bekerja di ladang, Nenek Marsiah sebagai petani di Gampong Lampanah Tuning, Indrapuri, Aceh Besar, ia melakoni pekerjaan ini sebagai pekerjaan sampingannya.

Maka tak heran tangannya sangat lincah menyulap potongan kulit bemban menjadi produk-produk rumah tangga yang unik dan beragam. Mulai dari tudung saji, tas, hingga keranjang.

Dalam bahasa Aceh, bemban atau bak bili adalah tumbuhan yang berkembang liar di hutan basah seperti hutan bambu. Jika ingin mengambil bahan baku untuk membuat anyaman, Anda harus memotong kulit luarnya lalu menjemurnya hingga warna aslinya berubah menjadi kecoklatan yang mengkilap.

Bukan sebuah proses yang mudah dan cepat. Namun, Nenek Marsiah tetap setia menjadi pengrajin anyaman bemban di tengah derasnya arus modernisasi. Kepedulian dan ketangguhan Nenek Mariah memang seharusnya diapresiasi sekaligus dijadikan sebagai motivasi.

Karena Nenek Marsiah adalah satu di antara ribuan orang yang hingga kini masih mempedulikan tradisi dan setia melestarikannya. Selain itu, keberadaan Nenek Marsiah juga mampu membawa perubahan yang positif untuk banyak orang. Maka tak pelak jika Nenek Marsiah pantas untuk mendapatkan Asuransi Syariah Indonesia dari Allianz.

Kampanye #AwaliDenganKebaikan yang sedang marak digaungkan oleh Allianz sesuai dengan apa yang sedang dilakukan Nenek Marsiah dalam menebar kebaikan. Kampanye ini bertujuan untuk menyadarkan kita bahwa ada banyak hal baik di sekitar kita dan kita pun bisa menyebarkan kebaikan untuk sesama dengan mudah, kapan saja, dan di mana saja, salah satunya dimulai dari diri sendiri.

Selain itu, Allianz juga menawarkan produk asuransi gotong royong dengan bergabung menjadi anggota asuransi Allisya Protection Plus. Asuransi ini mengangkat konsep tolong menolong, Anda bisa iuran untuk membantu sesama yang sedang mengalami musibah. Dengan begini Anda bisa berbuat kebaikan tak hanya untuk diri sendiri namun juga bermanfaat bagi banyak orang.

Meski pengrajin anyaman bamban telah beralih profesi ke hal-hal yang lebih menjanjikan dengan alasan kebutuhan, namun Nenek Marsiah bertahan. Karena ia yakin bahwa apa yang dilakukannya itu tak hanya sekadar menganyam atau membuat kerajinan. Lebih dari pada itu, Nenek Marsiah adalah pelestari budaya dan adat istiadat.

Kehadirannya penting sebagai pengingat bahwa anyaman bamban harus dilestarikan agar tak punah. Itulah mengapa Nenek Marsiah sudah selayaknya pantas mendapatkan Produk Asuransi Syariah Indonesia dari Allianz.

Produk asuransi ini adalah produk asuransi jiwa yang memberikan perlindungan sekaligus investasi bagi keluarga bahkan ketika Anda sudah meninggal dunia. Produk asuransi ini tentunya sangat  berguna bagi keberlangsungan dan kesejahteraan hidup keluarga Syarifudin sehingga ahli waris mampu melanjutkan perjuangannya dalam menebar kebaikan dan tentunya bisa hidup lebih layak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *