Puisi Perihal Senja Romantis Banget, Caption Senja

Puisi Tentang Senja Romantis – Senja selalu menyimpan semuanya, senja begitu cepat menghilang, senja hadir untuk menghiasi semuanya, membuat kata kata yang ada di dalam hati kemudian mencurahkannya dalam sebuah kalimat yaitu Puisi.

Puisi wacana senja begitu indah, ibarat dengan datangnya senja di sore hari, menikmati dengan secangkir kopi untuk membuat sebuah puisi. Nah teman berikut ini ialah puisi romantis wacana senja.

1. Semburat Senja yang Syahdu
Layaknya lintang yang tersebar di galaksi belantara
Lihatlah, nabastala terpampang konkret di depan netra
Sekelilingnya, ada jumantara yang mengudara
Seakan menunggu sang bangaskara yang ingin terbenam segera
Tatapan netra beralih ke langit barat
Menilik matahari seakan ingin mengucapkan perpisahan yang berat
“Selamat tinggal?”
Ataukah “Selamat menunggu untuk senja berikutnya?”
Oh tuan, saya lengah
Sungguh, retisalya kembali menganga
Meluluhlantakkan secercah yang terpinga-pinga
Pada semburat senja di penghujung September yang menelinga.
Lihatlah, pesona tuan layaknya senja
Yang gata meninggalkan sang nabastala
Kemudian tiba ketika dini hari
Menjelma menjadi sang fajar yang menyinari
Hei tuan, apakah ini terlihat antagonistis?
Saya ingin bersikap apatis
Perihal retisalya yang begitu traumatis
Sebab, nostalgia tunjukkan asmaralika yang begitu anarkistis
Mungkin, sudah saatnya untuk berdamai dengan senja
Sebab, tak anggun rupanya bermuram durja
Cukuplah nostalgia ini bersahaja.
2. Aku dan Senja
Aku ialah senja
Bagai memberi bahagia
Selalu memberi cinta
Dan seolah memupuk asa
Pun senja ialah aku
Hadir antara perbedaan
Seolah memberi peringatan
Tiba waktu pergantian
Di penghujung September kering ini
Senja selalu cerah
Senja memberi cinta
Tapi tak dapat memupuk asa
Semburatnya nan jingga
Berkelumat dengan hitam
Membaur dengan gelap
Lenyap bersama kapas
Hadir dengan tangisan langit
Bersua dengan ribut
Bertanya pada senja
Engkau kenapa?
Jingga yang menua
Pada titik temu pergantian
Memberi satu suara
Aku sudah lengah.
(Oleh: Yunita Malistiani)
 
3. Surat Rindu
 
Senja…
Satu kata yang indah
Satu kata sarat akan makna
memandangmu saya terpesona
Memori tentangmu berputar di kepalaku
Tersimpan apik mewarnai hariku
Apa kabar kamu?
Kekasihku…
Jauh di lubuk hati saya merindu
Rindu akan kehadiranmu
Senyuman yang menghiasi bibirmu
Selalu berhasil membuatku terpaku
Hitam lengam sehitam suraimu
Manik matamu seolah menghipnotisku
Memanggilku tuk menyentuhmu
Apakah saya tertawan cintamu?
Bulan September hampir berlalu
Sepucuk surat mengunjungiku
Adakah tanda kita kan bertemu?
Aku sudah terlanjur rindu
Surat akhir kukirim padamu
Surat yang membawa serta hatiku
Padamu sang penawan sanubari
Aku menunggumu di sini.
(Oleh: Indah Putri Lestari)
 
4. Hanya Angin Lalu
Semburat jingga terbias di langit barat
Matahari seolah melambai sebelum tenggelam
Malam tiba tanpa perlu sepucuk surat
Tanpa harus berteriak jua ke seluruh alam.
Angin betiup menerpa rambutku
Dedaunan lunglai terbawa angin
Menerbangkan puing-puing asa
Berharap kenangan ikut terbang jua
Namun,
Sia-sia saja
Tak ada yang berpengaruh menerbangkan rasa ini
Tak ada yang dapat hilangkan kenangan ini
Mata cokelatmu yang terbias mentari
Bibir tipismu melengkung tanpa henti
Harum tubuhmu berbaur lembabnya bumi
Kehangatan yang kukenang sampai kini.
Sayang,
Senja tak lagi indah tanpa hadirnya kamu
Sore tak lagi hangat tanpa pelukmu
Yang ada hanyalah rasa tuk menyendu
Kini, hanya sepi yang kunikmati
Waktu senja untuk menyendiri
Dan kenangan akan hadirnya kamu
Kuanggap hanya angin kemudian Sukabumi.
(Oleh: Siti Nurlaela Sari)

Nah indah ya teman beberapa puisi wacana senja di atas, terima kasih sudah berkunjung di blog ini jangan lupa kunjungi lagi ya hehe.